Digugu karena ilmunya. Ditiru karena akhlaknya. Dan dipercaya karena pengabdiannya.
Nilai itulah yang tergambar dalam sosok Mohammad Kurdi, yang pada Jumat, 18 September 2026, dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kecamatan Guluk-Guluk melalui Konferensi Anak Cabang.
Terpilihnya Pak Kurdi bukan sekadar tentang siapa yang menduduki sebuah posisi dalam organisasi. Lebih dari itu, amanah tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari para guru terhadap sosok yang selama ini berada di tengah dunia pendidikan dan pengabdian.
Bagi seorang guru, ilmu adalah bagian dari amanah. Namun ilmu akan kehilangan maknanya apabila tidak dibarengi dengan akhlak. Karena itu, sosok guru ideal tidak hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut tercermin dalam sikap dan perilakunya.
Di sinilah filosofi “digugu lan ditiru” menemukan maknanya.
Seorang guru semestinya menjadi sosok yang ucapannya dapat dipercaya dan perilakunya layak diteladani. Dalam diri Pak Kurdi, nilai tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya sebagai pendidik.
Pribadi yang sederhana, dekat dengan lingkungan, dan mampu menempatkan diri di tengah berbagai kalangan menjadi modal penting dalam menjalankan pengabdian. Sebab pendidikan tidak selalu berlangsung melalui kata-kata. Sering kali, keteladanan justru hadir melalui sikap yang sederhana: bagaimana menghargai orang lain, menjaga amanah, bersikap sabar, dan tetap hadir ketika dibutuhkan.
Kini, ruang pengabdian itu semakin luas.
Sebagai Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Guluk-Guluk, Pak Kurdi dihadapkan pada amanah untuk bersama-sama menggerakkan organisasi guru di tingkat kecamatan. Tantangannya bukan hanya bagaimana menjalankan roda organisasi, tetapi juga bagaimana menjadikan PERGUNU sebagai ruang bertumbuh bagi para guru.
PERGUNU memiliki peran penting dalam memperkuat silaturahmi antarguru, meningkatkan profesionalisme pendidik, serta meneguhkan nilai-nilai pendidikan yang berakar pada tradisi dan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, kepemimpinan Pak Kurdi diharapkan mampu menghadirkan suasana organisasi yang guyub, terbuka, dan produktif. Organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga tempat berbagi gagasan, pengalaman, dan semangat untuk terus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan.
Amanah sebagai ketua tentu bukan perkara ringan. Ia membutuhkan keteladanan, kesabaran, kemampuan mendengar, serta kesediaan untuk berjalan bersama.
Namun bagi seorang guru, memimpin sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan mendidik. Keduanya sama-sama membutuhkan keteladanan.
Sebab seorang pemimpin yang baik tidak selalu harus berada paling depan. Terkadang, ia justru harus mampu berjalan bersama, mendengar lebih banyak, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Dan barangkali, di situlah makna dari kepercayaan yang kini diberikan kepada Pak Kurdi.
Digugu karena ilmunya.
Ditiru karena akhlaknya.
Dan dipercaya karena pengabdiannya.
Tiga kalimat yang bukan sekadar rangkaian kata, tetapi menjadi harapan atas amanah baru yang kini dipikul Mohammad Kurdi sebagai Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Guluk-Guluk.
Semoga amanah tersebut menjadi jalan pengabdian yang lebih luas—untuk para guru, untuk pendidikan, untuk Nahdlatul Ulama, dan terutama untuk kemaslahatan masyarakat Guluk-Guluk.
Selamat mengemban amanah, Pak Kurdi. Semoga ilmu menjadi cahaya, akhlak menjadi teladan, dan pengabdian menjadi jejak kebaikan yang terus dikenang.

Posting Komentar untuk "Digugu karena ilmunya. Ditiru karena akhlaknya. Dan dipercaya karena pengabdiannya."